

Jika strategi modern warfare mengatakan “informasi adalah senjata”, maka data adalah amunisinya. Dan memasuki 2026, amunisi itu tidak selalu terdengar menenangkan.
Secara makro, gambarnya memang tidak semanis harapan. Bahkan sebelum kami menghadiri acara PERPI: Indonesia Market Behavior Outlook 2026 bertajuk Power–Priorities–Purchase pada 17 Desember lalu di Artotel Gelora Senayan, Jakarta, sebagian jawabannya sudah bisa ditebak dari bacaan berbagai portal berita dan majalah.

Menurut beragam proyeksi makro ekonomi Indonesia, pertumbuhan ekonomi pada 2026 diperkirakan masih moderat, berada di kisaran ±5% hingga 5,4%, tergantung metodologi dan lembaganya. Bank Indonesia melihat potensi sekitar 5,3%–5,4% (tradingeconomics.com), sementara World Bank memperkirakan tetap di sekitar 5,0% dan akan berkembang sedikit di tahun berikutnya (kontan.co.id).
Inflasi juga diperkirakan akan tetap terjaga rendah, berada dalam target Bank Indonesia di kisaran 2,5%±1%, sehingga tekanan terhadap daya beli pun diperkirakan terkendali dalam batas wajar (bi.go.id).
Namun konsensus analis juga menyuarakan konsumsi rumah tangga, kontributor terbesar terhadap PDB, menunjukkan pertumbuhan moderat, tidak lari jauh dari tren 4%–5%, sementara ekspor global diprediksi bakal menghadapi tekanan dari ketidakpastian ekonomi dunia (oecd.org).
Memang dalam beberapa bulan terakhir, media dipenuhi cerita tentang daya beli konsumen Indonesia yang tertahan. Bahkan skenario yang lebih ekstrem, fenomena konsumen “mantab” alias makan tabungan disebut kian meluas. Tidak mengherankan jika banyak brand mulai memandang 2026 dengan rasa was-was.

Namun, seperti perumpamaan lama, setengah gelas selalu bisa dibaca dua cara.
Pesimisme terhadap spending power justru membuka ruang bagi strategi yang lebih relevan. Produk yang lebih affordable bukan lagi sekadar jalan tengah; sachet economy dapat menjadi pendekatan strategis untuk menjaga keterjangkauan sekaligus mempertahankan kehadiran brand dalam keseharian konsumen.

Di sisi lain, kekhawatiran AI akan “mengancam” profesi teknis dan administratif ternyata tidak sepenuhnya berujung pada penyusutan lapangan kerja. Diskusi PERPI yang mengemuka justru menunjukkan kemunculan peran-peran baru, mulai dari prompt specialist, human–AI analyst, hingga berbagai pekerjaan hibrida yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Menariknya, ketika beberapa industri terlihat melambat, forum PERPI juga menyoroti paradoks yang patut dicermati. Sektor seperti wellness, FMCG, serta kosmetik dan skincare masih terlihat menarik dan justru menemukan momentumnya.
Pada akhirnya, pertanyaan bukan lagi apakah 2026 akan terasa berat. Melainkan bagaimana kita membaca datanya, dan bagaimana kita meresponsnya secara strategis.
Jadi, bagaimana insight seekers sendiri melihat 2026? Setengah gelas isi atau kosong?
Email: marketing@proximaresearch.co.id
Contact: +6282299988600
Editor: Hendy Adhitya