

Ada yang di sini masih suka main puzzle? Kalau ada, selamat, kita satu hobi.
Oleh Hendy Adhitya
Saya pribadi amat menyukai puzzle rumit, terutama dengan piece penuh detail visual. Belum lama ini, saya tuntaskan puzzle 1.000 pieces replika lukisan Van Gogh The Starry Night. Tujuh hari. Jangan tanya berapa jam per hari energi telah dicurahkan.
Yang menarik, saya tidak pernah menyusun puzzle secara acak. Ada pola berpikir berulang dan selalu saya terapkan.
Pertama, saya lihat gambar utuhnya. Biasanya dari cover boks atau poster referensi yang disertakan vendor puzzle. Kedua, saya pisahkan potongan pinggir dalam kelompok tersendiri alias piece “tanpa tangan” di satu atau dua sisinya. Ini pasti berlokasi di tepi atau sudut. Ketiga, saya kelompokkan potongan dengan ciri visual kuat, dalam kasus Starry Night, pola 'spiral putih kuning' dan 'cemara hitam' mudah dikenali. Sisanya? Itu kelompok paling sulit (terutama sapuan spiral biru pada langit dan sekumpulan rumah-rumah mini di sisi kanan bawah, aih bikin stres). Baru bisa dikerjakan setelah struktur utama terbentuk.
Itulah mind mapping versi manual saya.
Baru setelah itu saya mulai menyusun. Start dari tepi, lalu ke bagian cemara hitam dan spiral putih kuning, dan terakhir bagian dengan visual paling 'berisik' tadi, karena sulit dikategorikan. Ada yang menyamai metode saya ini?
Pendekatan inilah yang saya pakai saat membedah proyek riset kualitatif.
Langkah 1: Lihat “gambar utuh”nya alias objektif riset
Dalam proses pengerjaan riset kualitatif, acapkali saya lihat ini: Bagian periferal dikerjakan terlebih dahulu tanpa melihat objektifnya. Tidak jarang pula energi terpusatkan di situ yang akhirnya mengakibatkan kelelahan mental dan fisik di bagian akhir, terutama saat menyusun bagian rekomendasi (friendly note: jangan kuatir, saya pun terkadang kena distraksi ini). Kita belum paham lukisan apa yang ingin disusun.
Objektif riset adalah gambar di cover puzzle. Dalam mind map saya, objektif selalu ditempatkan di tengah. Semua cabang lain harus bisa ditarik kembali ke sini. Kalau tidak, itu noise atau setidaknya abaikan dulu sementara waktu.
Langkah 2: Tentukan “tepi puzzle” atawa batasan riset
Data kualitatif yang dimunculkan dari riset Anda bisa jadi teramat banyak, tapi Anda musti ingat, tidak semua data ketika dipoles bernilai emas, banyak juga (istilah saya) hanya bernilai setara perunggu. Potongan pinggir dalam puzzle memberi struktur awal. Dalam riset, ini setara dengan scope dan constraint.
Saya selalu memetakan ini lebih dulu dalam mind map sebagai cabang tebal. Tanpa batas jelas, riset kualitatif mudah melebar dan kehilangan fokus. Contoh ketika objektif utama riset adalah bagaimana kualitas pelayanan dine-in sebuah restoran A dialami para informan/partisipan, maka sebaiknya data mengenai pelayanan takeaway tidak menjadi fokus, atau bisa diletakkan sebagai appendix.
Setelahnya, Anda melakukan 'familiarisasi terhadap data' (Braun & Clarke, 2012) alias pembacaan kembali (re-reading) terhadap transkrip, catatan lapangan, foto-foto, dan lainnya (biasanya tahap ini akan lebih mudah/cepat dilalui jika Anda yang melakukan sendiri proses interviu/FGD/observasi).
Langkah 3: Kelompokkan pola yang mudah dikenali
Dalam puzzle tadi, kita mencari pola yang mudah dikenali lewat mata atau sering muncul. Dalam riset kualitatif, ini adalah membaca tema-tema awal seperti:
Di tahap ini, mind mapping sangat membantu karena kita tidak dipaksa mengurutkan. Semua insight boleh ditaruh dulu, lalu dikelompokkan secara visual. Pola biasanya muncul bukan karena dipaksa, tapi karena terlihat.
Jika latar belakang Anda adalah ilmu sosial, pasti tidak asing dengan Thematic Analysis (Braun & Clarke, 2012; Maguire & Delahunt, 2012). Ini merupakan metode penelitian kualitatif untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan melaporkan pola (tema) yang berulang dalam data, seperti transkripsi wawancara atau respon survei (open-ended question), buat memahami makna mendalam atau konsep yang mendasari perspektif peserta penelitian. Metode ini fleksibel, tidak terikat pada kerangka filosofis tertentu.
Sebagai lulusan ilmu komunikasi saya kerap melakukannya untuk penelitian analisis konten, framing media, semiotika, bahkan sebagai titik berangkat sebelum melakukan analisis diskursus. (Kalau tulisan ini punya banyak respon, lain waktu saya akan bagi pengalaman soal ini serta bagaimana ChatGPT membantu analisis tematik hehe. Jika Anda sangat tertarik dan sudah 'kebelet' silakan baca jurnal akademik Goyanes, et. al, 2024; Naeem, et. al, 2025; atau cari referensi Braun & Clarke, Maguire & Delahunt tadi)
Tiga langkah ini, menurut saya pribadi sudah cukup sebagai mind map untuk membantu Anda berproses lebih dalam selanjutnya.
Seni membaca situasi dan membentuk sesuatu
Ketika riset kualitatif dipahami sebagai sebuah seni, ia menuntut sensitivitas, interpretasi mendalam, nuansa, dan kreativitas dalam menangkap makna subjektif pengalaman manusia. Dalam kerangka Aristoteles (dalam Knowles, et. al, 2014), pengetahuan semacam ini berada pada ranah praktis dan produktif yang menjelaskan kenapa riset kualitatif, sebagai metode, bersifat fleksibel dan tidak tunduk pada satu prosedur baku.
Artinya, metode yang saya bagi lewat tulisan ini bisa jadi hanya cocok untuk saya, atau segelintir orang lain. Dalam menyusun puzzle pun, semua berhak memulai dari mana pun, ada yang langsung memulai tanpa melihat gambar, ada yang dari tengah, atau pinggir seperti saya.
Seperti Van Gogh, metode Post-Impresionisme-nya tidak dimengerti para kritikus dan penikmat seni pada masanya, malah dianggap melompati zaman. Cara melukisnya dianggap terlalu revolusioner sebelum akhirnya (setelah Gogh mangkat, ironisnya) masyarakat, penikmat, dan kritikus baru paham.
Riset kualitatif bekerja dengan logika yang serupa. Ia bukan sekadar kumpulan teknik, melainkan cara melihat dan memahami dunia. Dan seperti seni, nilainya sering kali baru terasa ketika kita memberi ruang pada proses, bukan hanya hasil akhirnya.
Tabik.