

Dalam beberapa tahun terakhir, kendaraan listrik perlahan berubah dari sekadar inovasi teknologi menjadi narasi besar tentang masa depan. Pemerintah mendorong penggunaannya, industri berinvestasi, dan publik mulai terpapar dengan berbagai pesan yang relatif seragam, yaitu: kendaraan listrik lebih efisien, lebih ramah lingkungan, dan akhirnya tidak terelakkan.
Oleh Priska Salsabiila
Namun, di tengah optimisme tersebut, ada satu pertanyaan yang justru jarang diajukan:
Jika kendaraan listrik memang masa depan, mengapa sebagian besar konsumen masih bertahan dengan kendaraan bensin hari ini?
Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi di sinilah letak kompleksitas perilaku konsumen. Dalam banyak kasus, keputusan bukan ditentukan oleh apa yang lebih baik, melainkan oleh apa yang cukup baik dan sudah terbukti. Otoritas Kementerian ESDM mencatat baru 236 ribu unit sepeda motor listrik terjual di Indonesia per Oktober 2025 (Ditjen Gatrik Kemen ESDM, November 2025). Angka tersebut baru 0,17% dari populasi sepeda motor berbahan bakar fosil 139.450.013 (BPS, 2024)
Kendaraan bensin hari ini bukan hanya sekadar produk lama dan belum tergantikan, namun suatu sistem yang sudah matang, terintegrasi secara fungsional, emosional, dan bahkan kognitif dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika seseorang mengisi bensin, misalnya, mereka tidak perlu berpikir panjang. SPBU tersedia di hampir setiap titik strategis, waktu pengisian hanya hitungan menit, dan tidak ada kekhawatiran tentang “apakah saya akan sampai tujuan?”.
Semua ini menciptakan psikologi konsumen dan dikenal sebagai cognitive ease, yaitu sebuah kondisi di mana keputusan terasa ringan karena sudah menjadi kebiasaan (Kahneman, 2011). Di sisi lain, kendaraan listrik masih meminta perhatian, adaptasi, dan dalam beberapa kasus, butuh kompromi dari konsumen.
Mengapa Kenyamanan Lebih Menang daripada Fitur Modern?
Di sinilah kita sering keliru dalam membaca pasar. Narasi tentang kendaraan listrik kerap dibingkai sebagai perbandingan fitur: lebih hemat, lebih bersih, lebih modern. Padahal, konsumen tidak hidup dalam tabel perbandingan. Mereka hidup dalam rutinitas. Sebenarnya saat ini mereka melakukan apa yang disebut sebagai mempertahankan stabilitas.
Bahkan dalam teori perilaku konsumen klasik, status quo bias menjelaskan individu cenderung mempertahankan kondisi saat ini, bahkan ketika alternatif lebih baik tersedia, selama perubahan tersebut membawa ketidakpastian (Samuelson & Zeckhauser, 1988).
Artinya, bertahan dengan kendaraan bensin bukan berarti konsumen menolak inovasi. Mereka hanya belum melihat alasan kuat untuk meninggalkan kenyamanan saat ini.
Jika kita melihat lebih dalam, keputusan untuk beralih sebenarnya bukan soal “ya atau tidak”, melainkan soal batas toleransi.
Seorang pengguna kendaraan bensin mungkin tidak keberatan jika harga BBM naik. Namun, ada titik tertentu di mana kenaikan tersebut mulai terasa tidak masuk akal untuk diterima. Di titik itulah, alternatif mulai dipertimbangkan. Hal serupa berlaku untuk kendaraan listrik. Konsumen mungkin bersedia menerima waktu pengisian lebih lama, tetapi hanya sampai batas tertentu. Mereka mungkin bisa menerima sedikitnya jumlah charging station, selama masih berada dalam radius aman.
Artinya, setiap konsumen memiliki apa yang bisa disebut sebagai threshold of acceptability. Batas di mana trade-off terasa wajar.
Dan di sinilah pertanyaan muncul: Apakah kendaraan listrik hari ini sudah mampu masuk ke dalam batas toleransi tersebut?
Di Balik Angka: Memahami Dimensi Emosional dan Risiko Konsumen
Sayangnya, banyak narasi saat ini terlalu cepat menawarkan jawaban tanpa cukup memahami pertanyaan. Kita bicara tentang efisiensi biaya, tetapi belum tentu memahami bagaimana konsumen mendefinisikan apa itu hemat. Boleh jadi kendaraan listrik masih belum masuk kategori hemat karena konsumen masih menghitungnya sebagai total cost. Termasuk perlu menakar baterai harus diganti pada tahun ke sekian, biaya perbaikan, dan biaya tidak terduga lain.
Kita membahas infrastruktur charging, tetapi belum tahu berapa bare minimum agar konsumen merasa aman. Kita menggaris tebal keunggulan teknologi, tetapi sering mengabaikan dimensi emosional seperti rasa percaya dan kontrol.
Dalam konteks ini, kendaraan listrik bukan sekadar produk baru melainkan perubahan sistem kehidupan. Beralih ke kendaraan listrik berarti mengubah cara seseorang merencanakan perjalanan, mengelola energi, dan bahkan memaknai risiko. Bukan semata upgrade transportasi, tapi juga behavioral shift.
Dan seperti ditunjukkan dalam berbagai studi adopsi inovasi, perubahan perilaku selalu terjadi secara bertahap, bergantung pada seberapa besar jarak antara nilai baru dengan kenyamanan lama yang sudah mapan (Rogers, 1983).
Maka, sebelum kita bertanya apakah sekarang adalah waktu untuk beralih, mungkin kita perlu mundur satu langkah untuk memahaminya dengan lebih utuh.
Karena pada akhirnya, konsumen tidak membeli kendaraan listrik semata-mata karena teknologinya. Mereka beralih ketika merasa tidak lagi mengorbankan terlalu banyak hal yang selama ini mereka anggap penting.
Dalam perspektif ini, tantangan terbesar kendaraan listrik bukan pada inovasi produk, melainkan pada kemampuan menjawab kebutuhan yang selama ini diam-diam dipenuhi dengan sangat baik oleh kendaraan bensin.
Di bagian ini, peran riset menjadi krusial. Bukan untuk membuktikan kendaraan listrik lebih baik, tetapi untuk memahami kapan, bagaimana, dan bagi siapa kendaraan listrik benar-benar bisa menjadi pilihan masuk akal, sebelum bicara soal konversi.
Email: marketing@proximaresearch.co.id
Contact: +6282299988600
Editor: Hendy Adhitya