

Urban Revivo resmi membuka gerai pertamanya di Indonesia di Pakuwon Mall Surabaya pada akhir Juli 2026. Salah satu fashion retailer terbesar asal Tiongkok ini tengah memperluas ekspansi globalnya. Urban Revivo menawarkan desain fashion-forward dengan harga di antara mass-market dan premium fashion.
Oleh Priska Salsabiila
Namun, Urban Revivo hanya satu bagian dari fenomena yang lebih besar.
Dalam beberapa tahun terakhir, makin banyak brand fashion dan lifestyle asal Asia memperluas kehadiran di Indonesia. Gentlewoman asal Thailand, Stand Oil dan Mardi Mercredi dari Korea, serta Beyond The Vines dan The Paper Bunny dari Singapura sebelumnya lebih banyak dikenal konsumen melalui social media, perjalanan ke luar negeri, atau cross-border shopping. Kini, brand-brand tersebut mulai mendapatkan tempat di pasar Indonesia. Perkembangan tersebut memunculkan pertanyaan menarik.
Apakah Indonesia sedang memasuki era baru Asian emerging brands? Brand apa yang berpotensi menjadi nama besar berikutnya di pasar Indonesia?
Dari Global Brands ke Asian Challenger Brands
Selama bertahun-tahun, peta fashion retail Indonesia relatif mudah dibaca.
Di satu sisi terdapat global mass-market players seperti Uniqlo, H&M, dan Zara. Masing-masing menempati posisi cukup kuat di benak konsumen. Uniqlo menawarkan functional basics, H&M mengusung affordable trend-driven fashion, sedangkan Zara dikenal melalui desain lebih polished dan fashion-forward.
Di sisi lain, brand lokal terus berkembang karena memahami konsumen Indonesia secara lebih dekat. Namun, di antara kedua kelompok tersebut mulai terbentuk ruang baru.
Asian contemporary brands
Brand-brand ini tidak selalu menawarkan harga termurah atau memiliki skala sebesar global fashion retailers. Kekuatan mereka sering terletak pada distinctive aesthetic, strong brand identity, cultural relevance, serta kemampuan menciptakan desirability melalui social media.
Mereka menawarkan produk yang cukup aspirasional untuk menjadi bagian dari lifestyle konsumen, tetapi tetap accessible sebagai bentuk affordable aspiration. Indonesia mulai menjadi pasar menarik untuk kategori tersebut. Urban Revivo menjadi salah satu contoh paling menarik. Brand asal Tiongkok ini berkembang dari pemain domestik menjadi international fashion retailer dengan jaringan di berbagai negara. Strateginya menunjukkan ambisi lebih besar daripada sekadar menjadi pemain fast fashion dengan harga kompetitif. (Reuters.com)
Urban Revivo mencoba menempati ruang antara mass-market fashion dan premium contemporary fashion. Koleksinya mengikuti tren global. Siluet dan desainnya lebih fashion-forward dibanding basic retailers, tetapi harganya tetap lebih accessible dibanding luxury atau designer brands.
Karena itu, menyebut Urban Revivo sebagai "Zara-nya Tiongkok" terlalu menyederhanakan positioning mereka. Brand ini membidik konsumen muda urban yang ingin tampil fashionable dan mengikuti tren tanpa membayar harga premium.
Pembukaan gerai pertama Urban Revivo di Indonesia bukan hanya menambah satu pemain baru dalam kategori fashion. Kehadirannya juga menunjukkan pasar Indonesia dinilai cukup menarik oleh brand Asia. Namun, Urban Revivo bukan satu-satunya brand yang menunjukkan perkembangan tersebut.
Gentlewoman, Stand Oil, hingga Mardi Mercredi
Beberapa brand telah lebih dahulu menunjukkan minat konsumen Indonesia terhadap emerging brands dari Asia. Menariknya, ketertarikan tersebut tidak selalu bermula dari kehadiran resmi di Indonesia. Sebelum membuka toko atau memiliki kanal penjualan lokal, sejumlah brand Asia lebih dulu dikenal melalui perjalanan ke luar negeri, social media, dan jasa titip (jastip). Bagi sebagian konsumen Indonesia, membeli produk Gentlewoman, Beyond The Vines, Stand Oil, atau brand Korea tertentu saat berkunjung ke Bangkok, Singapura, maupun Seoul telah menjadi bagian dari pengalaman traveling. Produk must-have atau sulit ditemukan di Indonesia juga menjadi incaran jastip dan reseller. Consumer demand dapat terbentuk jauh sebelum brand resmi memasuki pasar Indonesia.
Gentlewoman, brand asal Thailand dengan desain contemporary dan aesthetic yang mudah dikenali, resmi membuka store pertama di Indonesia pada 2026. Kehadirannya menunjukkan kemampuan brand dari Thailand membangun demand di Indonesia melalui social media, meski belum memiliki sejarah panjang di pasar lokal. (Erajaya.com)
Hal serupa terlihat pada Stand Oil dari Korea Selatan. Berawal dari kategori tas berdesain minimal dan highly recognizable, Stand Oil telah membangun physical presence di Jakarta dan Surabaya. (StandOil Indonesia)
Mardi Mercredi menunjukkan bagaimana Korean fashion brand berkembang dari popularitas di social media menuju physical retail presence. Setelah mengadakan pop-up, brand ini membuka flagship store dan memperluas kehadirannya di Jakarta. (Senayancity.com; Mardi Mercredi)
Di kategori lifestyle, fenomenanya bahkan semakin menarik. Beyond The Vines dari Singapura telah memiliki operasional resmi di Indonesia, lengkap dengan situs lokal dan harga dalam rupiah. The Paper Bunny, juga berasal dari Singapura, lebih dulu membangun awareness melalui cross-border demand dan pop-up sebelum mengembangkan kehadiran lokal. (beyondthevines.co.id; thepaperbunny.co.id; cosmopolitan.co.id)
Gentle Monster menunjukkan model berbeda. Produk brand eyewear asal Korea tersebut tersedia di Indonesia melalui peritel seperti Zalora, meski belum memiliki standalone flagship store seperti di beberapa negara lain. (Gentlemonster.com; Zalora.co.id) Masing-masing brand memiliki strategi masuk berbeda, tetapi memperlihatkan pola serupa. Brand Asia tidak perlu menjadi global giant terlebih dahulu agar relevan bagi konsumen Indonesia.
Kenapa Brand-Brand Ini Bisa Menarik Perhatian Konsumen Indonesia?
Beberapa karakteristik memberi Asian emerging brands peluang menarik di Indonesia.
1. Datang dengan identitas yang sangat jelas. Berbeda dari retailers dengan ratusan kategori dan target pasar luas, emerging brands biasanya memiliki brand DNA yang sangat kuat. Gentlewoman memiliki visual identity yang mudah dikenali. Stand Oil dikenal melalui distinctive bag silhouettes. Mardi Mercredi menampilkan aesthetic casual yang kuat dan konsisten. Beyond The Vines membangun universe yang lebih lifestyle-oriented. Konsumen kini makin sering menemukan produk melalui Instagram dan TikTok. Dalam kondisi tersebut, distinctiveness menjadi aset penting. (Nielseniq.com; bain.com)
2. Menawarkan affordable aspiration. Brand-brand ini tidak harus murah untuk menjadi accessible. Mereka bukan sekadar menjual produk, tetapi juga aspirasi terhadap gaya hidup tertentu. Konsumen mungkin belum siap membeli luxury handbag seharga puluhan juta rupiah. Namun, mereka masih bersedia membeli contemporary bag yang menawarkan aesthetic dan emotional reward dengan harga lebih terjangkau. Hal serupa berlaku pada fashion. Konsep affordable aspiration menjadi relevan ketika konsumen ingin menikmati fashion dan memperbarui penampilan tanpa masuk ke luxury spending. Mereka tetap mencari sense of novelty dan self-expression.
3. Social media memungkinkan demand terbentuk sebelum brand hadir. Dulu, konsumen Indonesia terutama mengetahui sebuah brand setelah toko dibuka atau advertising dilakukan secara lokal. Sekarang mekanismenya bisa terbalik. Konsumen dapat mengenal brand melalui TikTok, Instagram, key opinion leader (KOL), atau orang lain yang mereka lihat saat traveling. Demand terbentuk lebih dulu, sehingga brand tidak selalu memulai dari nol ketika membuka toko di Indonesia. (Nielseniq.com; bain.com)
Pola tersebut membuat Asian emerging brands semakin menarik bagi industri retail.
What Comes Next?
Perkembangan brand Asia yang sudah mendapatkan perhatian konsumen Indonesia memunculkan pertanyaan tentang calon next wave. Selain nama-nama yang mulai hadir, masih banyak brand Asia lain yang layak masuk radar.
Dari Korea, Matin Kim, Covernat, dan Rest & Recreation menarik untuk diperhatikan. Ketiganya memiliki karakter berbeda, tetapi sama-sama kuat dalam membangun aesthetic yang distinctive dan mudah dikenali. Sementara itu, EMIS dan Marithé François Girbaud menunjukkan kemampuan brand populer di Korea berkembang menjadi lifestyle brands dengan daya tarik regional. Marithé François Girbaud sendiri merupakan brand asal Prancis yang direvitalisasi melalui lisensi di Korea. (prnewswire.com)
Namun, Korea bukan satu-satunya sumber emerging brands yang menarik. Thailand juga memiliki nama seperti Carnival di streetwear, Greyhound Original di contemporary fashion, serta TandT dan sejumlah label independen berbasis Bangkok. Nama-nama tersebut patut diperhatikan seiring menguatnya pengaruh Bangkok sebagai salah satu fashion and creative hubs di Asia. (Greyhound.co.th; tandt-studio.com)
Jepang juga memiliki sejumlah contemporary dan streetwear brands yang berpeluang mendapatkan consumer pull lebih besar di Indonesia, terutama di kalangan konsumen pencari desain niche dengan cultural credibility.
Karena itu, Urban Revivo bukan sekadar cerita tentang satu brand Tiongkok yang masuk ke Indonesia. Kehadirannya memberi sinyal bahwa makin banyak Asian brands, dari Seoul hingga Bangkok serta Singapura hingga Shanghai, melihat Indonesia sebagai pasar dengan consumer appetite cukup besar.
Referensi
Email: marketing@proximaresearch.co.id
Contact: +6282299988600
Editor: Hendy Adhitya