

Dua orang duduk bersama belum tentu menghasilkan FGD kecil. Tambahan satu kursi pun dapat mengubah jenis data, alur percakapan, serta risiko etik. Kesalahan memilih format riset kerap muncul saat jumlah peserta dijadikan patokan utama. Padahal pertanyaan terpenting adalah interaksi sosial seperti apa yang hendak diamati?
Jumlah Peserta Bukan Titik Berangkat
Wawancara dyad mempertemukan moderator dengan dua partisipan. Keduanya menjawab pertanyaan terbuka sekaligus merespons satu sama lain. Percakapan tersebut dapat memperlihatkan cara peserta saling mengingatkan, mengoreksi, atau menyusun cerita bersama. Karena itu, David Morgan dkk menegaskan dyad bukan FGD berukuran mini.
Triad menempatkan tiga partisipan bersama seorang moderator. Format ini berguna saat fenomena melibatkan tiga peran saling bergantung, misalnya pasien, anggota keluarga, dan tenaga kesehatan. Penambahan peserta ketiga membuka lebih banyak arah interaksi. Dukungan, mediasi, konflik, bahkan koalisi dua lawan satu dapat muncul dalam satu sesi.
Focus Group Discussion (FGD) mengejar tujuan berbeda. Peneliti menggunakannya untuk memetakan keragaman pandangan serta melihat makna terbentuk melalui percakapan kelompok. Enam sampai delapan peserta kerap menjadi ukuran praktis. Namun, telaah O. Nyumba dan koleganya menemukan praktik FGD berkisar dua sampai 21 peserta, dengan median 10. Kelompok besar tetap dapat disebut FGD, tetapi ruang bicara per orang cenderung menyempit.

Metode Mengubah Apa yang Terlihat
Pilihan format bukan urusan logistik belaka. Metode menentukan pengalaman yang dapat terlihat sekaligus bagian tersembunyi.
Bayangkan riset mengenai penggunaan telemedisin oleh pasien lanjut usia dan pendampingnya. Dyad memungkinkan peneliti melihat bagaimana keputusan dibuat sebagai pengalaman bersama. Namun, salah satu pihak mungkin menahan kritik demi menjaga hubungan. Wawancara terpisah dapat membuka cerita pribadi, tetapi peneliti kehilangan interaksi langsung saat kedua versi bertemu.
Studi Sharon Blake dan koleganya memperlihatkan tidak ada format wawancara pasangan yang selalu unggul. Mereka memadukan sesi bersama dan sesi individual agar bisa membaca cerita pasangan sekaligus pengalaman pribadi. Pendekatan gabungan tersebut berguna jika anggaran, waktu, dan beban analisis memadai.
Triad relevan untuk keputusan perawatan pasien kronis. Tiga pihak dapat menjelaskan posisi masing-masing lalu menanggapi pihak lain secara langsung. Namun, suara pasien bisa tenggelam di antara otoritas tenaga kesehatan dan keluarga. Moderator perlu membaca diam, gestur, perubahan posisi, serta siapa paling sering menentukan arah percakapan.
FGD lebih tepat untuk mengevaluasi konsep aplikasi atau memetakan bahasa konsumen. Sejumlah peserta dapat memperluas daftar kebutuhan dalam waktu relatif singkat. Keluasan tersebut dibayar dengan kedalaman cerita individual yang lebih terbatas.
Risiko Etik Ikut Berubah
Semakin banyak relasi hadir dalam ruangan, semakin rumit pula tanggung jawab peneliti. Persetujuan partisipan tidak otomatis menghapus dampak setelah sesi berakhir. Pengakuan tentang konflik keluarga, kondisi kesehatan, atau penilaian terhadap atasan dapat terbawa kembali ke hubungan sehari-hari.
Dyad menuntut peneliti menilai apakah kedua pihak aman berbicara bersama. Triad memerlukan perhatian lebih besar terhadap hierarki dan potensi koalisi. Dalam FGD, peneliti dapat meminta semua peserta menjaga kerahasiaan, tetapi tidak bisa menjamin kepatuhan mereka setelah diskusi.
Topik sensitif karena itu tidak otomatis cocok untuk format interaktif. Wawancara individual atau rancangan gabungan dapat menjadi pilihan lebih aman. Keputusan etik perlu dibuat sejak perekrutan, bukan setelah moderator menghadapi konflik di dalam ruang.
Pilih Berdasarkan Unit Sosial
Dyad cocok saat unit analisisnya hubungan dua pihak. Triad layak dipilih ketika tiga aktor saling memengaruhi dan interaksi tersebut merupakan bagian utama pertanyaan riset. FGD berguna saat peneliti mencari spektrum pandangan, bahasa bersama, atau proses terbentuknya norma kelompok.
Ukuran satu sesi juga perlu dibedakan dari jumlah sesi. Riset Hennink dkk menemukan empat FGD cukup untuk mengidentifikasi rentang isu dalam data mereka. Pemahaman lebih mendalam membutuhkan kelompok tambahan. Hasil tersebut bukan angka universal karena kecukupan data dipengaruhi tujuan, komposisi peserta, keragaman populasi, dan jenis kejenuhan yang dicari.
Pertanyaan desain terbaik bukan mengenai berapa banyak orang bisa dikumpulkan? Pertanyaan utamanya ialah, siapa perlu berbicara dengan siapa agar proses sosial tersebut terlihat? Jumlah peserta baru masuk setelah unit sosial, risiko etik, dan kebutuhan analisis terdefinisi dengan jelas.
Referensi
Morgan dkk. (2013), Introducing Dyadic Interviews as a Method for Collecting Qualitative Data Morgan dkk. (2016), Dyadic Interviews as a Tool for Qualitative Evaluation Suen, Chow, dan Ng (2025), Using Triadic Interview to Explore Complex Interactional-Based Phenomena Blake dkk. (2021), Reflections on Joint and Individual Interviews With Couples O. Nyumba dkk. (2018), The Use of Focus Group Discussion Methodology Hennink, Kaiser, dan Weber (2019), What Influences Saturation?
Email: marketing@proximaresearch.co.id
Contact: +6282299988600
Editor: Hendy Adhitya