

Masih ingat logo Gojek yang dulu? Kalian tahu kan, gambar tukang ojek naik motor lengkap dengan sinyal Wi-Fi di atas helmnya? Di zamannya, simbol itu sangat "diterima" karena membantu kita memahami layanan ojek berbasis aplikasi. Tapi tahun 2019, mereka ganti ke logo "Solv", lingkaran hijau yang jauh lebih abstrak dan modern. Kenapa gak dari dulu aja pakai logo itu? Jawabannya: karena dulu kita belum siap.

Gambar 1. Logo Gojek Lama vs Baru
Hah? Belum siap?
Ini namanya transisi. Contoh lain di Indonesia adalah kesuksesan QRIS yang dihidupkan kembali oleh Bank Indonesia pada 2019. Meski teknologi QR code sudah lama ada, penerimaannya baru meledak saat ekosistemnya sudah "pas" di mata kita. Rahasianya bukan karena desainer zaman dulu kurang sakti, tapi karena mereka pakai satu "mantra" sakral dari Raymond Loewy: MAYA.
Mestinya Inovasi Itu Gak Bikin Shock

Gambar 2. Raymond Loewy (ixdf.org)
MAYA, singkatan dari Most Advanced, Yet Acceptable (Terdepan, Tapi Masih Bisa Diterima) (ixdf.org). Raymond Loewy, sang "Bapak Desain Industri" yang mendesain botol Coca-Cola hingga interior pesawat NASA, paham banget kalau manusia itu makhluk ribet (raymondloewy.com).
Simpelnya gini: Kadang kita sebagai kreator atau pemilik brand merasa paling futuristik dan pengen bikin sesuatu dengan cita-cita bisa melampaui zaman. Tapi problemnya, publik itu gak selalu siap menerima solusi kalau itu terlalu jauh dari apa yang mereka anggap normal cennydd.com. Loewy bilang, kalau insight seekers mau jualan sesuatu dengan konsep mengejutkan, buatlah itu (barang/jasa) terasa familiar. Sebaliknya, kalau kalian jualan sesuatu yang sudah biasa banget, tambahkan sedikit elemen kejutan (rmlfvr.com).
Perang Batin: Neofilia vs Neofobia
Menurut Loewy, otak kita itu isinya drama antara dua kubu:
Kalau desain kalian terlalu biasa, orang bakal bosan (neofilia gak terpuaskan) (ixdf.org). Tapi kalau terlalu canggih sampai masuk ke "zona syok" (shock zone), orang malah bakal menolak karena butuh beban kognitif tinggi (dengan kata lain, males mikir, males repot) cuma buat paham fungsinya (return.co).
Secara ilmiah, ini divalidasi lewat grafik Inverted-U Curve oleh Hekkert et al. (2003). Kesukaan kita itu paling mentok ada di level optimal baru: cukup baru buat bikin penasaran, tapi cukup sopan biar mata gak kaget (Wei Ken-Hung & Chen, 2012).

Gambar 3. Hubungan antara novelty (kebaruan) dan aesthetic preference (kesukaan estetika). Di sana kelihatan jelas kalau titik tertinggi kesukaan orang terhadap desain (dalam studi ini, kursi) ada di tengah-tengah (level moderat), bukan di benda yang terlalu biasa atau terlalu aneh. (Wei Ken-Hung & Chen, 2012)
Belajar dari Apple, NASA, dan "Dosa" Masa Lalu
Lihat gimana Apple memainkan prinsip ini. Mereka gak langsung ngilangin semua tombol dan ngenalin layar sentuh iPhone dalam semalam (brainsuite academy). Mereka lewat iPod dulu selama bertahun-tahun untuk "menggiring" kita menuju era tanpa tombol fisik (ixdf.org). Apple gak minta kita belajar ulang teknologi; mereka cuma minta kita upgrade kebiasaan (Malik, n.a).

Gambar 4. Perjalanan iPod yang mengubah persepsi kita tentang nirtombol iPhone (ixdf.org)
Sebaliknya, abaikan prinsip ini dan kalian bisa apes kayak Google Glass yang gagal total karena dianggap terlalu aneh dan mengganggu privasi di zamannya. Bahkan di luar angkasa, Loewy harus ngotot nambahin jendela (porthole) di habitat Skylab NASA supaya astronot bisa lihat Bumi. Secara teknis itu bikin pusing insinyur, tapi secara psikologis itu penting supaya astronot gak ngerasa terisolasi di ruang hampa (raymondloewy.com).

Gambar 5. Desain Loewy untuk Skylab NASA (neverwasmag.com)
Menemukan "Titik Pas" Bareng Proxima Research
Nah, buat kalian para Insight Seekers yang sedang membangun brand atau pusing mikir strategi produk lokal, entah itu sepatu lokal yang sering dianggap "mirip" brand luar atau produk FMCG yang mau rebranding—pertanyaannya adalah: Gimana kalian tahu inovasi kalian itu sudah di level MAYA atau malah sudah masuk Shock Zone?
Banyak brand lokal Indonesia terjebak dalam dilema antara ingin orisinal tapi takut gak laku, atau main aman dengan meniru desain luar tapi dituduh gak autentik. Di sini riset berperan supaya kalian tidak cuma pakai feeling anak kantor.
Di Proxima Research, kami tidak sekadar kasih kalian data mentah. Lewat framework 5i-Xcelerator (iGnite, iMmerse, iDeate, iNvestigate, iMplement), kami bantu kalian membedah pasar dari akar rumput. Dengan tim berpengalaman, khususnya di industri FMCG, Perbankan, dan Ritel, kami siap membantu memetakan mental model audiens kalian.
Bingung fitur mana yang harus ditambah atau dikurangi? Layanan JAR (Just-About-Right) Analysis kami rancang untuk memvalidasi apakah inovasi kalian sudah pas atau malah kelewat modern. Lewat metode Focus Group Discussion (FGD) dan In-Depth Interview, kami membantu kalian memahami ambang batas penerimaan konsumen, sehingga produk kalian tidak berakhir jadi "seni avant garde tapi gak laku".
Inovasi tanpa penerimaan itu cuma pemborosan biaya R&D. Jadi, sudah siap bikin produk advanced tapi tetap dicintai pasar? Langsung saja diskusi bareng kami untuk dapet insight berdampak. Gratis.
Email: marketing@proximaresearch.co.id
Contact: +6282299988600
Editor: Hendy Adhitya