

Menit ke-15 di Stadion Utama Gelora Bung Karno semestinya jadi momen di mana Ole Romeny menunggu di kotak penalti sebagai ujung tombak. Namun, kenyataannya berbeda. Romeny turun jauh menjemput bola ke lini tengah, membelakangi gawang, lalu dengan satu sentuhan presisi, ia mengirimkan umpan terobosan dan membelah pertahanan Saint Kitts and Nevis. Beckham Putra berlari menyambut bola, mengecoh kiper Jurlani Archibald dalam situasi one-on-one, dan meledakkan sorak-sorai puluhan ribu pasang mata.
Itu bukan sekadar gol pembuka. Itu pernyataan tentang identitas baru bernama Herdman Ball. Sebuah sistem di mana ego individu diredam demi efektivitas kolektif, dan posisi statis dihapus demi kemampuan beradaptasi cepat. Bagi para marketer dan brand strategist, kemenangan 4-0 Indonesia di bawah debut John Herdman malam itu bukan cuma soal skor, melainkan sebuah studi kasus manajemen perubahan yang sangat relevan untuk dunia bisnis.

Gambar 1. Pelatih baru timnas Indonesia: John Herdman
Dalam dunia pemasaran yang jenuh, kita sering terjebak pada kekakuan struktur. Namun, Herdman Ball menunjukkan keberhasilan sebuah entitas bergantung pada kemampuan setiap elemen untuk berfungsi secara cair (fluid) melampaui deskripsi tugas formal mereka.
Liquid Branding: Belajar dari Fleksibilitas Calvin Verdonk
Salah satu pemandangan paling menarik dalam laga tersebut adalah pergerakan Calvin Verdonk. Meski secara natural berposisi sebagai bek kiri (left-back) di Lille, Verdonk terlihat sangat cair menjaga kedalaman lini tengah bersama Jordi Amat dan membantu distribusi bola. Dia mampu beradaptasi di posisi barunya.

Gambar 2. Calvin Verdonk si serba bisa
Pelajaran bagi marketer, ini adalah konsep Liquid Branding. Sebuah merek tidak boleh kaku hanya pada satu kanal atau satu identitas statis. Marketer harus mampu mengalir ke kanal-kanal baru sesuai kebutuhan konsumen. Semisal, jika data menunjukkan audiens Anda berpindah dari platform Instagram kemudian beralih ke TikTok, tim Anda harus berani menggeser sumber daya ke sana, seperti Verdonk yang beradaptasi memperkuat lini tengah, alih-alih posisi natural dia di pertahanan kiri.
Ole Romeny: Melepas Ego "Hero" demi "Value Creation"
Ole Romeny turun sebagai penyerang (forward) bersama Sananta, posisi yang biasanya menuntut ego tinggi untuk mencetak gol. Namun di laga Saint Kitts & Nevis, Romeny menjalankan peran berbeda (kemungkinan strategi mengecoh lawan dari Herdman). Pada proses gol pertama dia turun jauh ke tengah menjemput bola, dengan visi bagus, forward Oxford United ini dalam sekian detik sukses membukukan assist terobosan untuk gol Beckham Putra. Pun pada proses gol kedua, begitu mendapat operan pendek dari Sananta, tak berlama-lama Romeny yang melihat Beckham di posisi bebas tak terjaga sebelah kiri pertahanan lawan, langsung saja memberi umpan tidak deras tapi tepat, dan disambar gol kedua Beckham.
Dari contoh kasus ini brand bisa belajar, terkadang sebagai pemilik brand, kita kepedean atau terlalu yakin produk kita 100 atau bahkan 1,000% bakal disukai konsumen, benar dan salah, gagal atau sukses pastilah karena produknya. Sayangnya tak selamanya begitu. Produk tak melulu sebagai "pahlawan" (the hero) yang harus selalu tampil di depan.
Strategi Romeny mengajarkan kita tentang service-oriented positioning. Terkadang, peran terbaik merek Anda bukan melakukan penjualan langsung (hard sell), termasuk di antaranya melulu menonjolkan keunggulan dan kecanggihan fitur. Tapi pernahkah Anda terpikir produk Anda bisa menjadi fasilitator atau penyedia solusi (playmaker) bagi masalah konsumen?
Ide ini sendiri bukan barang baru. Guru marketing, Philip Kotler menolak 'orientasi berlebihan kepada produk' lebih dari dua dekade silam. Dia mengkritik konsep 4P yang berorientasi pada produk dan bukannya pelanggan. Kotler memproposisikan konsep baru, 4P yang sangat producer view dia ubah menjadi 4C (Consumer Solution, Consumer Cost, Convenience, and Communication) berorientasi sudut pandang konsumen (Lauterborn dalam Kotler, 1999).
Agilitas Lintas Fungsi: Agresivitas Elkan Baggott
Kita melihat Elkan Baggott, seorang bek tengah (center-back) bertubuh besar setelah absen panjang sejak Piala Asia 2023. Pemanggilan ini menandai kembalinya Elkan usai masalah komunikasi dan fokus di klub. Di laga kemarin dirinya tidak jarang membantu serangan hingga garis depan. Bahkan, Baggott sempat memberikan umpan tarik yang membahayakan pertahanan lawan. Ini menunjukkan pertahanan bukan hanya soal menjaga area penalti, tapi juga tentang memulai inisiatif pertumbuhan.
Pelajaran bagi strategist: Dalam bisnis, ini adalah cross-functional agility. Jangan biarkan tim customer service hanya berpikir tentang bertahan (menangani komplain), atau tim sales hanya berpikir tentang menyerang. Ketika tim operasional atau teknis Anda dibekali pemahaman strategis untuk melihat peluang pasar, Anda menciptakan organisasi tangguh dari segala lini.
Budaya "Be Good" dan Kepercayaan pada Bakat Muda
Herdman tidak ragu memberikan tanggung jawab besar kepada pemain muda seperti Dony Tri Pamungkas (21 tahun) sebagai eksekutor tendangan sudut dan posisi bek sayap kiri (biasanya diisi Calvin Verdonk). Ia juga terus memotivasi Ramadhan Sananta untuk tetap agresif meskipun peluang demi peluang belum berbuah gol malam itu. Herdman fokus pada proses "menjadi baik" (be good) secara konsisten untuk mencapai kehebatan.
Hal ini bisa menjadi pelajaran bagus bagi marketer. Kehebatan merek dibangun dari konsistensi kualitas di setiap titik sentuh (touchpoint). Fokuslah pada investasi segmen pasar baru (bakat muda) dan hargai setiap eksperimen yang dilakukan tim, meski belum memberi hasil instan.
Saran Strategis
Berdasarkan analisis laga perdana era John Herdman, berikut adalah 3 langkah strategis yang bisa insight seekers adaptasi dalam rencana pemasaran:
Memang masih terlalu dini menilai performa tim di bawah asuhan pelatih baru dari satu laga saja. Namun, laga kemarin telah menunjukkan identitas dinamis adalah kunci memenangkan momen. Sekarang, saatnya giliran merek Anda. Bagaimana menurut insight seekers? Apakah strategi fluid tactics seperti diterapkan Herdman relevan untuk pertumbuhan brand Anda saat ini?
Email: marketing@proximaresearch.co.id
Contact: +6282299988600
Editor: Hendy Adhitya