

Brainrot adalah istilah yang belakangan ramai diperbincangkan di berbagai platform digital, terutama di kalangan Generasi Alpha. Brainrot merujuk pada genre konten absurd. Ciri khasnya dibuat dengan cepat, repetitif, dan penuh referensi campur aduk. Kerap kali kita lihat fenomena ini berkembang di TikTok, YouTube Shorts, hingga Roblox.
Oleh Michael Martin
Beberapa minggu lalu, anak saya tiba-tiba berteriak dari ruang tamu: “Yahkee, tahu nggak steal brainrot? Tahu nggak italian brainrot? Tralalelo tralala!” Saya diam. Saya tidak tahu itu bahasa apa. Saya mengira itu cuma ocehan anak-anak. Namun dia menyebut dengan penuh percaya diri, seperti sedang merujuk pada sesuatu sangat penting.

Lalu muncul kata-kata asing lain: skibidi, rizz, sigma, bahkan roblox steal a brainrot. Sebagai orang tua dan pekerja di dunia riset pasar, reaksi pertama saya bukan panik, melainkan bingung. Apa sebenarnya fenomena _brainrot _ini?
Saya mencoba tonton kontennya. Saya buka TikTok, YouTube Shorts, dan bahkan mencoba beberapa brainrot game di Roblox untuk memahami konteks. Saya lihat video dengan editan cepat, distorsi suara, karakter rekaan AI, teks tidak berkorelasi dengan gambar, dengan musik latar diputar berulang tidak teratur lebih mirip suara glitch Vanellope dalam suatu scene di film animasi Wreck it Ralph.
Anak saya tertawa, saya mencoba tertawa, namun tidak menemukan letak lucunya. Di situ saya sadar, saya bukan audiens utama dari fenomena brainrot.
Satu hal perlu ditegaskan sejak awal. Tulisan ini tidak membahas brainrot dalam ranah psikologis, neurologis, atau dampak klinis perkembangan anak. Saya bukan psikolog atau pakar kesehatan mental. Fokus tulisan ini berada pada pembacaan budaya dan perilaku digital, sesuatu yang lebih dekat dengan pengalaman saya di dunia riset pasar dan observasi sosial.
Brainrot sebagai Bahasa Identitas Generasi Alpha
Istilah brainrot memang terdengar negatif. Namun dalam konteks Generasi Alpha, brainrot bukan tentang kemunduran kognitif. Ia merupakan genre pop culture dan sekaligus bahasa identitas.
Setiap generasi membangun identitas melalui simbol. Milenial melakukannya lewat rage comics (kalo kamu millennials, pasti kenal dengan website 9gag kan) dan forum anonim. Gen Z lewat meme nihilistik dan ironi berlapis. Gen Alpha melakukannya lewat potongan suara, glitch visual, dan gerak absurdity yang dipercepat.

Karakter seperti Skibidi Toilet, Cappucino Assassino, Tung Tung Sahur, Balerina Capucina, hingga figur-figur aneh dalam italian brainrot bukan sekadar lelucon satu kali lewat. Mereka menjadi referensi bersama. Nama-nama tersebut diucapkan berulang, diparodikan, dimasukkan ke dalam roblox steal a brainrot, bahkan dijadikan avatar dalam brainrot game. Identitas dibangun melalui pengenalan cepat terhadap simbol-simbol ini.
Tren pencarian seperti steal brainrot, plant vs brainrot, anomali brainrot, italian brainrot, hingga brainrot evolution tidak hanya menunjukkan kata kunci viral. Kita sedang melihat jejak pembentukan subkultur. Ada pola konsumsi, ada pola produksi, dan ada pola pengakuan sosial.

Istilah seperti skibidi, rizz, sigma, atau bahkan chant seperti “tralalelo tralala” berfungsi sebagai sandi sosial. Dalam sosiologi, simbol semacam ini bekerja sebagai penanda keanggotaan. Jika Anda mengerti referensinya tanpa perlu dijelaskan, Anda berada di dalam. Jika Anda bertanya “apa sih itu?”, Anda berada di luar.
Brainrot menghadirkan solidaritas melalui absurditas. Lucunya bukan semata pada konten, tetapi pada fakta hanya sebagian orang yang paham konteks. Inside joke menjadi mekanisme eksklusi dan inklusi sekaligus.
Dunia yang makin terfragmentasi tidak lagi membangun identitas lewat institusi besar seperti agama, negara, atau ideologi. Ia dibangun lewat komunitas mikro digital. Dan brainrot adalah salah satu fondasi.
Mengapa Brainrot Naik dan Menjadi Tren 2024–2025
Fenomena brainrot tidak muncul dalam ruang hampa. Lonjakan penggunaan AI generatif, dominasi konten short-form, serta percepatan algoritma rekomendasi membuat konten absurd lebih mudah tersebar dan direplikasi.
Tren seperti italian brainrot atau anomali brainrot memperlihatkan estetika dengan bentuk aneh dan tidak lazim. Contohnya bisa dilihat pada karakter seperti Skibidi Toilet dengan kepala manusia keluar dari kloset dan bernyanyi tanpa konteks jelas, atau figur "Ohio Final Boss" dengan aura dramatis. Ada pula versi italian brainrot seperti karakter bernama Bombardino Crocodilo atau tokoh hewan AI dengan aksen Italia yang dilebih-lebihkan dan ekspresi wajah tidak proporsional.
Karakter lain sering muncul dalam bentuk remix seperti Talking Ben yang dipercepat suaranya, Grimace versi AI yang dibuat menyeramkan namun tetap lucu, atau edit "Gigachad sigma" dengan efek suara berat dan potongan visual hiperdramatis. Semua karakter ini tidak dibangun dengan latar cerita kuat. Mereka hadir sebagai simbol cepat dan langsung dikenali.

Bagi generasi sebelumnya, bentuk seperti ini terlihat seperti kesalahan produksi atau humor yang tidak kelar. Bagi Gen Alpha, ini adalah gaya.
Perubahan ini menunjukkan pergeseran relasi terhadap realitas.
Generasi Alpha tumbuh dalam dunia di mana filter buatan lebih umum daripada wajah asli, AI art lebih viral daripada foto nyata, dan remix lebih populer daripada karya orisinal. Mereka tidak mengalami fase sebelum internet.
Konten brainrot memadukan suara acak, potongan visual cepat, dan karakter hasil generatif AI tanpa terasa mengganggu bagi mereka. Itu justru terasa natural. Realitas bagi mereka bersifat modular, bisa dipotong, ditempel, dan dipercepat.
Brainrot juga menunjukkan resistensi terhadap narasi panjang. Tidak ada alur tiga babak Aristoteles. Tidak ada pembangunan karakter. Tidak ada pesan moral eksplisit. Hanya potongan visual, audio, dan repetisi.
Dalam kacamata sosial, fenomena ini dapat dibaca sebagai respon terhadap kelebihan informasi. Dalam dunia yang penuh tekanan akademik, notifikasi, dan ekspektasi performatif, brainrot menjadi ruang tanpa tuntutan makna. Penonton tidak perlu memahami. Mereka hanya perlu merasakan.
Generasi sebelumnya membangun makna lewat cerita, sedangkan Gen Alpha membangunnya lewat referensi silang. Satu audio TikTok merujuk pada meme lain. Satu karakter Roblox merujuk pada tren sebelumnya. Makna tidak linear, tetapi berlapis dan saling terhubung.
Kekacauan yang terlihat di permukaan sebenarnya membentuk sistem simbolik baru dengan ritme cepat dan potongan yang saling terhubung.
Dampak Brainrot bagi Brand dan Strategi Marketing
Masuk ke Roblox memberi saya pemahaman baru. Di sana, brainrot game bukan sekadar permainan, melainkan ruang sosial. Dalam salah satu game bertema steal brainrot, pemain berlari mengumpulkan karakter absurd dengan suara terdistorsi, lalu "mencuri" avatar lawan dengan efek suara yang sengaja dibuat berlebihan.
Di game lain bertema plant vs brainrot (ini mengadaptasi game yang dahulu millennial sering mainkan, yaitu “Plant vs Zombies”), karakter tanaman dengan wajah aneh dan animasi glitch bertarung dalam tempo sangat cepat, tanpa alur cerita jelas. Semua terasa seperti parodi dari game arus utama, namun justru ramai dimainkan.

Tren seperti roblox steal a brainrot atau script steal a brainrot menunjukkan anak-anak tidak hanya menonton, tetapi juga memodifikasi dan menciptakan ulang. Mereka berbagi script sederhana untuk mengubah efek suara, mengganti tekstur karakter, atau menambahkan referensi meme terbaru. Proses ini bukan sekadar bermain, melainkan produksi budaya bersama.
Bagi dunia marketing, fenomena ini menjadi tantangan sekaligus peluang. Strategi tradisional berbasis informasi sering kali tidak efektif bagi generasi yang terbiasa instan. Duolingo, misalnya, menggunakan maskot dalam video pendek dengan edit cepat dan situasi tidak masuk akal. Alih-alih menjelaskan fitur aplikasi, mereka membangun persona yang terasa seperti bagian dari komunitas internet.
Contoh lain dapat dilihat di Roblox, ketika brand masuk bukan melalui iklan statis, tetapi lewat item digital yang bisa dipakai pemain. Identitas virtual menjadi medium ekspresi, bukan sekadar ruang promosi.
Tidak semua brand perlu ikut menjadi absurd. Brainrot adalah bahasa komunitas, bukan template universal. Brand yang memaksakan diri menggunakan slang seperti rizz tanpa konteks justru akan terlihat tidak autentik.
Pendekatan relevan adalah memahami struktur humor, dinamika komunitas, serta peran sosial di balik tren tersebut.
Makna Fenomena Brainrot dalam Game of Attention
Saya masih belum tertawa saat menonton brainrot. Jujur saja, saya tidak merasakan kesenangan sama seperti anak saya. Namun ada satu hal dan ini pelan-pelan saya pahami: brainrot tidak diciptakan untuk saya.
Brainrot tidak lahir untuk memenuhi standar kualitas orang dewasa (setidaknya bagi saya pribadi). Ia lahir sebagai ruang bermain simbol, ruang aman untuk merasa menjadi bagian dari sesuatu. Di balik Cappucino Assassino, Tung Tung Sahur, atau Balerina Capucina, ada kebutuhan sederhana dan sangat manusiawi: ingin diakui, ingin nyambung, ingin berada dalam lingkaran.
Setiap generasi selalu punya bahasa yang terdengar aneh bagi generasi sebelumnya. Rock dianggap berisik (bahkan dicela dalam satu tokoh di film yang pernah saya tonton, jika tidak bisa bermain klasik, lebih baik main musik rock saja). Meme dianggap tidak serius. Kini brainrot dianggap tidak masuk akal. Polanya berulang. Perubahan cuma mediumnya.
Di tengah game of attention, perebutannya bukan lagi uang, tapi waktu dan fokus. Siapa yang mampu memicu tawa dalam tiga detik pertama bakal bertahan. Siapa lelet akan tergeser. Dalam arena seperti itu, absurditas bukan kelemahan. Ia adalah strategi bertahan.
Mungkin brainrot memang terlihat seperti kekacauan. Namun bisa jadi kita sedang menyaksikan generasi dengan kamusnya sendiri (Sama seperti generasi-generasi sebelumnya, atau dalam studi psikologi komunikasi, ini yang disebut dosen saya sebagai 'persekongkolan linguistik'). Tidak selalu rapi, tidak selalu logis, tetapi sangat hidup.
Pertanyaannya bukan apakah brainrot masuk akal. Pertanyaannya, apakah kita siap menerima kita tidak lagi menjadi pusat dari semua percakapan budaya.
Fenomena brainrot menunjukkan perubahan perilaku digital tidak bisa dipahami cuma melalui asumsi per generasi. Diperlukan pendekatan riset sistematis untuk membaca pola konsumsi, bahasa simbolik, dan dinamika komunitas digital yang terus berubah. Di sinilah riset pasar dan riset sosial berperan untuk membantu brand dan organisasi memahami generasi baru secara objektif dan berbasis data.
Email: marketing@proximaresearch.co.id
Contact: +6282299988600
Editor: Hendy Adhitya