

Belakangan, saya cukup takjub melihat perubahan ruang ritel di Bandara Soekarno-Hatta. Area komersial terasa lebih tertata, tampilan gerai lebih konsisten, lalu ruang tunggu, tempat makan, dan toko mulai dirancang sebagai satu pengalaman.
Oleh Michael Martin
Perubahan itu bukan sekadar renovasi kosmetik. Jika dibaca bersama pembenahan bandara lain di bawah InJourney, tampak pergeseran cara pandang terhadap bisnis bandara. Bandara tidak lagi hanya diperlakukan sebagai infrastruktur pemindah penumpang. Ruang ini mulai dikembangkan sebagai bagian dari perjalanan, konsumsi, dan kesan pertama atas sebuah destinasi.
Namun, ketika dibandingkan dengan Changi, Incheon, Hamad, atau Heathrow, posisi InJourney perlu dibaca secara proporsional. Transformasinya nyata, tetapi sebagian besar masih berkutat pada fasilitas, kapasitas, penataan tenant, dan monetisasi ruang. Bandara terbaik dunia sudah melangkah lebih jauh. Mereka memberi orang alasan untuk mengingat, menikmati, bahkan mendatangi bandara tanpa rencana terbang.
Dari terminal menuju ekosistem perjalanan
PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero), atau InJourney, merupakan holding BUMN sektor aviasi dan pariwisata. Enam anak usahanya bergerak dari pengelolaan bandara sampai hotel, destinasi, kawasan wisata, serta ritel. Struktur ini memungkinkan perjalanan dibaca sebagai satu ekosistem.
InJourney menyebut dirinya tourism orchestrator. Perusahaan juga menargetkan kontribusi pariwisata terhadap produk domestik bruto naik dari 4,1 persen menjadi 6 persen pada 2029. Dalam kerangka tersebut, bandara menjadi titik kontak strategis. Hampir seluruh wisatawan udara melewatinya, baik saat datang maupun ketika pulang.
Soekarno-Hatta memperlihatkan beberapa model transformasi sekaligus. Terminal 3 menekankan konsistensi tampilan dan kualitas pengalaman. Terminal 1C memusatkan penerbangan domestik Citilink sejak 12 November 2025, lalu menghadirkan area komersial dengan akses bagi penumpang maupun masyarakat umum. Terminal 1A direvitalisasi dengan rencana peningkatan kapasitas dari 5,7 juta menjadi 10 juta penumpang per tahun. Area komersialnya juga diperluas dari 4.400 menjadi sekitar 6.300 meter persegi.
Terminal 2F mengambil jalan berbeda. Fasilitas khusus haji dan umrah ini mampu melayani 6,1 juta jemaah per tahun, lengkap dengan masjid, lounge, dan area pendukung. Empat terminal tersebut menunjukkan satu pelajaran sederhana. Formula seragam tidak selalu cocok untuk semua penumpang.
Di luar Jakarta, pola serupa mulai terlihat. Ngurah Rai menggunakan alur tunggal agar penumpang melewati ritel, makanan, minuman, serta lounge. Sultan Hasanuddin membuka terminal baru pada November 2025 dengan kapasitas 15,5 juta penumpang per tahun. Pada 2026, pengembangan juga berlanjut di Minangkabau dan Depati Amir.
Bandara dunia menjual alasan untuk berhenti
Perbandingan internasional menunjukkan tidak ada satu model bandara terbaik. Peran kota, profil penumpang, dan kekuatan budaya membentuk model berbeda. Perlu saya akui, saya belum pernah mengunjungi langsung empat bandara pembanding ini. Analisis saya bersandar pada dokumen resmi, bukan pengalaman tersesat mencari gate di Changi atau Incheon.
Changi menjadikan bandara sebagai destinasi kota. Jewel memadukan Rain Vortex, taman, atraksi keluarga, hotel, restoran, dan lebih dari 250 gerai dalam satu kompleks. Pengunjung lokal dapat datang tanpa tiket pesawat. Konsep Terminal 1C mulai membuka kemungkinan serupa, tetapi akses publik saja belum cukup. Terminal membutuhkan alasan kunjungan mandiri, misalnya kuliner khas, acara, ruang keluarga, atau atraksi lokal.
Incheon mengambil jalur budaya. Bandara tersebut menghadirkan pertunjukan, HiKR Station, serta K-Culture Museum seluas 1.189 meter persegi. Pengunjung tidak cuma melihat motif Korea. Mereka dapat berinteraksi dengan K-pop, K-beauty, instalasi digital, atau karya seni. Perbedaan antara dekorasi dan pengalaman terletak pada partisipasi.
Hamad mengubah waktu transit menjadi kemewahan. The Orchard merupakan taman tropis dalam ruang seluas 6.000 meter persegi, berisi 300 pohon dan 25.000 tanaman. Ruang tersebut dikelilingi ritel premium serta tempat makan. Pelajarannya bukan membangun taman tropis di setiap terminal. Ruang komersial memerlukan jangkar non-komersial agar orang mau berhenti dan merasa nyaman.
Heathrow mengurangi hambatan berbelanja melalui layanan digital. Penumpang dapat memesan produk sebelum terbang, lalu mengambil dan membayarnya di terminal. Model Reserve & Collect mengurangi ketidakpastian waktu, salah satu masalah utama ritel perjalanan.
Sudah bergerak, belum sampai tujuan
Pada semester I 2026, InJourney Airports membukukan pendapatan Rp10,23 triliun, naik 3 persen secara tahunan. Bisnis non-aeronautika menyumbang sekitar 38 persen dari pendapatan usaha, meningkat dari 30 persen sebelum transformasi. Angka itu sedikit di atas rata-rata global 36,7 persen, tetapi masih di bawah rata-rata gabungan Asia Pasifik dan Timur Tengah sebesar 43,5 persen.
Persentase pendapatan tetap bukan satu-satunya ukuran. Pengelola perlu membaca penjualan per penumpang, produktivitas tiap meter persegi, waktu tinggal, persepsi harga, kontribusi produk lokal, serta dampak ruang komersial pada kenyamanan. Kenaikan pendapatan akibat harga lebih mahal belum tentu menandakan pengalaman lebih baik.
InJourney sebenarnya memiliki modal luas karena mengelola bandara, hotel, destinasi, kawasan wisata, dan ritel. Tantangannya adalah membuat seluruh kemampuan itu terasa sebagai satu perjalanan, bukan sekadar kumpulan anak perusahaan.
Sebagai penonton, jujur saya justru merasa excited. Ada sesuatu sedang bergerak, pelan dan bertahap, tetapi arahnya terasa. Bayangan tentang bandara Indonesia sebagai bagian dari pengalaman perjalanan kini semakin mungkin.
Keberhasilannya tidak akan ditentukan oleh seberapa mirip Soekarno-Hatta dengan Changi. Ukurannya adalah kemampuan InJourney menciptakan model bandara Indonesia dengan identitas cukup kuat, sehingga tidak perlu menjadi tiruan siapa pun.
Referensi
Email: marketing@proximaresearch.co.id
Contact: +6282299988600
Editor: Hendy Adhitya