

Dalam memilih vendor market research, pertanyaan pertama biasanya muncul adalah soal biaya. Hal ini wajar karena riset kerap dianggap investasi (bila optimis, tapi sebaliknya sering juga dianggap cost) dan klien perlu menghitung apakah sepadan dengan hasil. Namun, terlalu fokus pada angka di awal membuat klien melewatkan hal-hal yang jauh lebih menentukan yaitu:
“Apakah hasil riset ini benar-benar bisa diterapkan nantinya?"
Riset akhirnya bukan sekadar deliverables atau kebutuhan formalitas. Riset lebih sering dijadikan dasar untuk kebutusan bisnis, sehingga kualitas proses dan ketepatan pendekatan seharusnya lebih penting dari sekadar murah atau cepat.
Berikut beberapa hal yang dapat ditanyakan ke vendor riset selain harga:
1. Apa Objektif Paling Realistis untuk Dijawab?
Vendor biasanya tidak langsung menjawab semua pertanyaan klien, tapi membantu memperjelas mana objektif layak dijawab dengan riset, mana yang perlu pendekatan tambahan, atau terlalu luas untuk satu studi.
Contoh pertanyaan:
“Dari semua objektif, apakah mungkin dijawab dengan kegiatan riset?”
Riset dengan hasil kuat hampir selalu dimulai dari tujuan spesifik.
2. Metode Apa yang Paling Tepat, dan Kenapa?
Klien bisa dan sangat dianjurkan menggali dasar pemilihan metode vendor riset untuk mengukur seberapa meyakinkan dan realistis proyek riset dilakukan.
Misal dengan bertanya:
Dengan begini, seharusnya vendor mampu menjelaskan trade-off dari tiap metode riset jika klien bertanya demikian. Karena pada dasarnya riset pasar tidak rigid dari sisi pilihan metode, tapi punya ketepatan metode setiap menjawab pertanyaan.
3. Bagaimana Kalender Pelaksanaannya dan Apa Konsekuensi jika Dipercepat?
Timeline hampir selalu jadi topik sensitif dalam project market research. Banyak studi terdengar sederhana, tetapi membutuhkan waktu memastikan kualitas data tetap terjaga.
Pertanyaan yang sebaiknya ditanyakan:
Vendor tentu akan transparan dan menjelaskan percepatan timeline sering punya konsekuensi, misal:
Dengan memahami trade-off ini sejak awal, klien bisa menentukan apakah prioritasnya adalah kecepatan, kedalaman insight, atau keseimbangan keduanya.
4. Bagaimana Proses Rekrutmen dan Quality Control?
Banyak studi kurang sesuai dengan realita konsumen bukan karena analisis yang buruk, tapi karena sejak awal, pemilihan respondennya tidak tepat.
Sejak awal, sebelum atau sesudah vendor riset (biasanya) mengirimkan kuesioner screening (atau bahasa awamnya adalah kuesioner seleksi), klien dapat bertanya:
*atau istilah lainnya responden profesional. Oknum akan berperan sebagai karakter dari segmen konsumen tertentu. Ibarat aktor atau aktris film, dia bisa berakting sebagai apa pun. Fenomena ini makin menjadi karena tampaknya responden palsu menjadi ladang profesi bagi segelintir pihak.
5. Output Akhirnya Seperti Apa?
Di proposal pengajuan, biasanya vendor menyiapkan ilustrasi hasil (dummy) agar klien bisa melihat gambaran laporan akhir dalam beberapa slide. Klien dapat memastikan gambaran keluaran dengan menanyakan:
Boleh lihat gambaran output-nya nanti seperti apa?
Klien dapat mengomentari jika tidak sesuai untuk meluruskan keinginan sebelum proyek dimulai.
6. Seberapa Paham Vendor dengan Industri Anda?
Salah satu faktor menentukan kualitas riset bukan hanya metodologi, tetapi seberapa dalam vendor paham konteks industri klien.
Karena praktiknya, riset setiap kategori punya dinamika berbeda. Misal studi sektor FMCG tidak bisa disamakan dengan riset layanan keuangan, pendidikan, pertambangan, atau program CSR. Pun metodenya serupa, cara responden membangun jawaban dan insight ditafsirkan bisa jadi sangat berbeda.
Pertanyaan yang bisa diajukan ke vendor antara lain:
Pemahaman konteks bukan berarti vendor harus tahu semua jawaban sejak awal, mereka hanya perlu menavigasi ekspektasi klien terhadap kompleksitas industri. Sekaligus membantu klien mendapat insight yang relevan, bukan sekadar merangkum opini responden nanti.
7. Apakah Vendor Mampu Menjangkau Lokasi atau Coverage Wilayah yang Dibutuhkan?
Beberapa riset besar rata-rata dilaksanakan di wilayah Jakarta, tetapi kebutuhan bisnis klien sering kali cakupannya lebih luas: daerah-daerah non-Jakarta, wilayah nasional, bahkan pasar internasional.
Tiap vendor punya kemampuan jangkauan wilayah. Kapasitas ini bergantung kepada jaringan rekrutmen, tim lapangan, maupun pengalaman lokal di wilayah tertentu.
Pertanyaan yang bisa diajukan misalnya:
Karena lokasi bukan hanya soal tempat pengambilan data, tetapi juga budaya, daya beli, gaya hidup, dan norma sosial yang bisa berbeda signifikan antarwilayah. Insight dari Jakarta belum tentu bisa langsung mewakili dinamika pasar nasional.
Dengan memastikan coverage lokasi sejak awal, desain riset bisa lebih realistis dan hasil lebih relevan untuk keputusan ekspansi atau strategi pasar lebih luas.
Riset yang Baik Dimulai dari Ketepatan Bertanya
Biaya memang penting, tetapi riset ditentukan hal-hal mendasar: kejelasan objektif, ketepatan metode, kualitas eksekusi, serta analisis terhadap kumpulan narasi responden menjadi insight yang berguna dan relevan.
Di Proxima Research, kami terbiasa memulai setiap studi dengan pendalaman konteks dan diskusi objektif secara menyeluruh. Hal ini dilakukan agar pendekatan riset nantinya benar relevan dengan kebutuhan bisnis klien. Kami percaya riset yang baik bukan mengenai banyaknya data terkumpul, tapi tentang cerita di baliknya dan kemudian diterjemahkan menjadi pemahaman pasar komprehensif.
Email: marketing@proximaresearch.co.id
Contact: +6282299988600
Editor: Hendy Adhitya