

“You just had to be there.”
Kalimat itu muncul sebagai caption di salah satu postingan Instagram Hailey Bieber pada sebuah carousel berisi selfie dengan filter retro, pose khas era Tumblr, dan foto ikoniknya bersama Justin Bieber. Tidak ada narasi panjang, tapi entah kenapa postingan itu terasa sangat familiar.
Oleh Priska Salsabiila
Dalam waktu hampir bersamaan, berbagai template Instagram bermunculan. Kolase foto dengan efek grainy, tone warna yang sengaja dibuat kusam, tulisan lowercase, hingga ekspresi yang terlihat santai dan tidak terlalu dipikirkan. Banyak orang mulai meromantisasi kembali tahun 2016 alias throwback 2016, di waktu yang tepat sepuluh tahun lalu.

Gambar 1. Ilustrasi throwback ke 2016 (NBC News)
Tidak cuma itu, data Spotify (BBC.com, 2026) mencatat terjadinya peningkatan signifikan sebesar 71% terhadap playlist lagu trend 2016 bila dibandingkan tahun sebelumnya, dan 'big-hitting artists' katakanlah The Chainsmokers, The 1975, 21 Pilots mulai populer lagi untuk dimainkan.
Yang menarik, tren ini tidak muncul di 2025 atau 2024 tapi justru terasa paling kuat di 2026. Kenapa 2016, dan kenapa sekarang?
2016 sebagai era yang terasa lebih tulus
Artikel Forbes (Di Placido, 2026) membahas fenomena ini dengan sudut pandang menarik. Tahun 2016 dipersepsikan sebagai masa ketika internet masih terasa lebih jujur. Bukan karena dunia saat itu lebih ideal, tetapi karena cara manusia menggunakan media sosial belum sekompleks hari ini.
Di masa itu, banyak aktivitas digital dilakukan tanpa tujuan monetisasi. Meme dibuat karena lucu, bukan dibuat dalam bentuk brainrot. Foto diunggah karena ingin ikut tren, bukan demi affiliate link. Konten menyebar organik, bukan hasil kematangan perhitungan algoritma.
Internet terasa seperti ruang bermain, tempat berekspresi, bukan tempat bekerja.
Ketika melihat kembali ke masa itu, yang muncul bukan sekadar nostalgia visual seperti filter-filter retro atau filter anjing di Snapchat atau video pendek format Vines, tetapi kerinduan terhadap perasaan ringan yang pernah ada. Termasuk lagu trend 2016, ambillah contoh 'Closer' milik The Chainsmokers yang kerap diinterpretasikan sebagai soundtrack refleksi generasi banyak makan asam garam. Bukan lagi soal cinta pertama, tapi tentang hubungan yang gagal dan membentuk siapa mereka sekarang. Lagu ini kembali relevan karena emosinya tumbuh bersama pendengarnya (IDNTimes.com, 2026).

Gambar 2. The Chainsmokers
Ketika AI mempertegas jarak antara 2016 dan 2026
Perasaan nostalgia semakin kuat ketika dikontraskan dengan kondisi digital hari ini. Tahun 2026 adalah era di mana AI hadir hampir di setiap sudut kehidupan online. Konten bisa dihasilkan dalam hitungan detik, komentar bisa dibuat otomatis, bahkan wajah dan suara manusia bisa direplikasi dengan amat meyakinkan.
Di tengah situasi ini, muncul kembali istilah The Dead Internet Theory. Andreas Maryoto (2024) dalam tulisannya untuk Kompas.id menjelaskan lebih detail soal The Dead Internet Theory, sebagai konten artifisial yang menggantikan konten organik buatan manusia. "Kadang kita tak sadar, konten ini mulai mendominasi dan dikonsumsi secara daring. Oleh karena itu, internet ”mati” karena konten yang kita konsumsi tidak lagi dibuat oleh makhluk hidup alias manusia," kata dia.
Dalam konteks ini, 2016 menjadi simbol dari internet yang masih “hidup”. Tidak sempurna, tidak rapi, bahkan sering kali berantakan, tapi lebih manusiawi dari ketidakteraturan yang sulit direplikasi oleh mesin.
Nostalgia sebagai respon sosial yang bukan sekadar tren visual
Kembalinya tren throwback 2016 tidak bisa dilepas dari kondisi sosial. Saat dunia terasa semakin cepat, semakin otomatis, dan semakin menuntut produktivitas, manusia cenderung mencari ruang yang tidak menuntut apa-apa.
Nostalgia menjadi bentuk pelarian yang aman. Ia tidak menuntut performa, tidak menuntut hasil, dan tidak menuntut validasi. Mengingat 2016 berarti mengingat masa ketika tidak semua hal harus punya tujuan.
Karena itu, tren ini tidak berhenti pada estetika tapi emosional. Ia muncul sebagai keinginan untuk kembali merasa “cukup” tanpa harus selalu terlihat berkembang, relevan, atau menghasilkan sesuatu.
Apa artinya untuk brand?
Kembalinya tren throwback 2016 menjadi sinyal perubahan ekspektasi konsumen terhadap brand. Di tengah kesibukan dunia digital dengan strategi A-Z dan otomatisasi, audiens justru mulai mencari sesuatu dengan nuansa terasa lebih “manusia”. Beberapa implikasi strategis yang bisa dibaca dari fenomena ini antara lain:
Mungkin ini bukan tentang 2016
Semakin diamati, tren “2016 is back” sebenarnya tidak benar-benar bicara soal masa lalu. Ia lebih merefleksikan kondisi psikologis kolektif di masa sekarang. Beberapa hal yang bisa dibaca dari fenomena ini antara lain:
Dan mungkin, itulah alasan kenapa 2016 kembali lagi di 2026.
Email: marketing@proximaresearch.co.id
Contact: +6282299988600
Editor: Hendy Adhitya